Sejak Januari hingga November 2016, pasar properti Indonesia dianggap cenderung flat dan tidak mampu bergerak naik. Rendahnya daya beli masyarakat sedikit banyak memengaruhi kondisi tersebut.

"Dari awal tahun sampai sekarang tidak bisa bergerak naik karena daya beli masyarakat belum pulih total. Tetapi properti dengan kebutuhan kelas menengah ke bawah, program sejuta rumah malah booming," ucap irektur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

Bukan hanya program satu juta rumah, lanjut Panangian, program pengembang dengan harga Rp 500 juta ke bawah dan apartemen dengan pangsa pasar mahasiswa juga menjadi properti dengan pertumbuhan tinggi.

Sementara itu, harga properti di atas Rp 1 miliar disebut Panangian justru mandek sehingga secara keseluruhan pasar properti dari Januari hingga November 2016 flat atau tidak naik dan tidak turun.

"Rumah menengah ke bawah meningkat karena pemerintah memberikan suku bunga rendah, penggalakkan sejuta rumah, pelonggaran uang muka yang dampaknya secara maksimal baru terasa pada semester I tahun 2017," imbuh dia.

Semester I-2017 dinilai Panangian akan menjadi periode peningkatan kredit pemilikan rumah (KPR) yang saat ini masih di bawah 8 persen.

"Properti dikatakan bagus kalau KPR bisa tembus dua digit, di atas 12 persen dan itu terjadi semester I tahun depan karena pergerakannya mulai ada ke sana," tutupnya.

sumber : kompas.com